Sen. Jun 1st, 2026

Terapi Autologus Stem Cell Terbukti Bisa Menurunkan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2

Terapi Autologus Stem Cell Terbukti Bisa Menurunkan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2

Belakangan ini, nomor penderita hiperglikemia melitus tipe 2 di area Indonesia mengalami peningkatan yang digunakan signifikan. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, per 2015 lalu, Indonesia menjadi negara dengan tingkat penderita penyakit gula ketujuh tertinggi di area dunia.

Diabetes melitus Tipe 2 sendiri dikenal sebagai penyakit “silent killer” yang bisa saja menyebabkan disfungsi, gagal organ, hingga kehancuran berbagai bagian tubuh. Adapun terapi terapi yang mana lumrah digunakan untuk DM tipe 2 adalah pemakaian obat obat an penurun kadar gula darah juga insulin. Namun belakangan ini, terapi stem cell bisa saja menjadi salah satu alternatif penyembuhan bagi penderita DM tipe 2.

Stem cell, atau yang dimaksud dikenal dengan sell punca adalah terapi pengembangan sel induk dari tubuh yang tersebut yang dimaksud mampu memulihkan sel-sel tubuh yang mana rusak akibat penyakit berat. Dalam hal ini, penelitian dari Pusat Penelitian dan juga Penguraian Stem Cell Universitas Airlangga menemukan bahwa terapi autologus stem cell dapat menurunkan level gula darah jikalau dijalankan selama tiga bulan.

“Penelitian kami menemukan bahwa pemakaian terapi autologus stem cell dapat membantu menurunkan kadar gula darah dengan sangat signifikan. Terapi stem cell diadakan dengan memasukkan stem cell ke pankreas, dan juga secara bertahap, kinerja pankreas di memproduksi insulin akan membaik, sehingga akan membantu menurunkan kadar gula darah,” ucap Ketua Stem Cell Research and Development Center Universitas Airlangga, Dr. Purwati, dr., Sp.PD, K-PTI, FINASIM, pada keterangannya, Hari Jumat (15/12/2023).

Dalam melakukan penelitian ini, dr Purwati melibatkan 40 orang pasien diabetes mellitus dengan usia antara 30-79 tahun. Para penderita DM Tipe 2 ini kemudian disuntikkan stem cell dengan jumlah kali yang tersebut berbeda di kurun wktu tiga bulan. Selanjutnya, para pasien ini akan diukur gula darah puasa serta 2 jam sesudah makan, mengukur HBA1C lalu fungsi pankreas.

“Hasilnya, level gula darah pada waktu berpuasa serta dua jam setelahnya makan dan juga HBA1C mengalami penurunan yang sangat signifikan. Karenanya, stem cell dapat menjadi terapi pilihan untuk penderita DM tipe 2,” sambungnya.

Ketua Stem Cell Research and Development Center Universitas Airlangga, Dr. Purwati, dr., Sp.PD, K-PTI, FINASIM.
Ketua Stem Cell Research and Development Center Universitas Airlangga, Dr. Purwati, dr., Sp.PD, K-PTI, FINASIM.

Selanjutnya, dr Purwati juga menjelaskan berbagai keunggulan dari terapi autologus stem cell bagi terapi DM tipe 2. Beberapa di dalam antaranya yang dimaksud pertama adalah aman dikarenakan autologus, sumber stem cell yang digunakan mudah didapat, penyimpanannya yang mana bukan sulit, hingga sifat stem cell itu yang tidak ada juga bisa saja menurunkan keadaan peradangan dalam tubuh.

“Terapi autologus stem cell untuk penyakit gula ini memang sebenarnya hal baru yang dimaksud terus mengalami perkembangan keilmuannya. Namun dari penelitian yang digunakan kami lakukan, terapi ini bisa jadi menjadi alternatif terapi untuk DM tipe 2,” ucap dr Purwati.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *