Ming. Mei 31st, 2026

Efek Positif-Negatif Teknologi Teknologi AI di dalam Bumi Kesejahteraan

Efek Positif-Negatif Teknologi Teknologi Kecerdasan Buatan di tempat di Bumi Kepuasan

Menteri Komunikasi kemudian Informatika (Kominfo) Budi Arie Setiadi mengungkapkan sebagian dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk dunia kesehatan.

Menurutnya, perkembangan teknologi di dalam sektor patologi anatomi telah lama memberikan dampak besar. Proses diagnosis penyakit, penelitian medis, perawatan pasien, dan juga perubahan pun sudah pernah tumbuh pesat.

“Inovasi teknologi seperti Artificial Intelligence dan juga data analytics mampu meningkatkan efisiensi diagnosis juga rekomendasi medis untuk pasien dengan cepat kemudian aksesibel, membantu tenaga kemampuan fisik melakukan tindakan medis hingga meningkatkan kualitas layanan kesehatan,” kata Menkominfo, dikutipkan dari siaran pers Kominfo, Akhir Pekan (17/12/2023).

Budi Arie menjabarkan, adopsi teknologi digital pada patologi anatomi telah dilakukan mentransformasi proses histopatologi. Dulu itu memerlukan pemakaian mikroskop secara manual, sekarang menjadi sistem patologi digital.

Menurutnya sistem patologi digital seperti pencitraan digital, mikroskop virtual, hingga Whole Slide Imaging  (WSI) juga sudah memungkinkan para patolog bekerja dengan gambar resolusi tinggi dari sampel jaringan secara elektronik.

“Sistem patologi digital turut memberikan kemudahan pada memfasilitasi konsultasi jarak jauh, kolaborasi antara ahli kemudian penyimpanan data yang dimaksud lebih lanjut efisien,” tuturnya.

Ditambahkan dia, pandemi wabah Covid-19 juga sudah membuka luas adopsi teknologi digital di area bidang kesehatan. Budi Arie menilai hal itu dapat dilihat dari keinginan layanan kondisi tubuh yang digunakan cepat kemudian akurat telah dilakukan menyokong berbagai pembaharuan teknologi.

5 Efek negatif Kecerdasan Buatan di area dunia kesehatan
Kendati begitu, Budi Arie tak menampik kalau teknologi Kecerdasan Buatan juga miliki efek buruk untuk dunia kesehatan.

Pertama, munculnya kemungkinan pelanggaran prinsip pengamanan data pribadi pasien akibat ketidaksiapan infrastruktur dan juga tata kelola data. Kedua, biaya yang dimaksud relatif tinggi di proses adopsi AI.

Ketiga, mengakibatkan adanya peluang miskonsepsi pemakaian kecerdasan buatan dengan anggapan Kecerdasan Buatan tambahan kredibel kemudian efisien konsultasi medis tanpa penegakan diagnosis dari tenaga kesehatan.

Keempat, terdapat bias di sistem Artificial Intelligence apabila data yang digunakan untuk machine learning tidak ada representatif terhadap semua populasi, sehingga bisa jadi merugikan kelompok marginal.

“Terakhir, belum adanya regulasi kemudian aturan hukum tentang pemanfaatan teknologi Kecerdasan Buatan pada bidang kesehatan,” tandasnya.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *