Kam. Apr 16th, 2026

Banyak Kasus Bunuh Diri Terwujud di area Kalangan Remaja, Hal ini 4 Penyebabnya

Banyak Kasus Bunuh Diri Terjadi di dalam area Kalangan Remaja, Hal ini 4 Penyebabnya

Belakangan, persoalan hukum bunuh diri dalam kalangan remaja kian meningkat. Hal ini pun menjadi sorotan masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, apa alasan para remaja yang disebutkan mengakhiri hidupnya?

Dokter spesialis ilmu kedokteran jiwa, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ mengungkapkan ada berbagai faktor yang digunakan menyebabkan remaja memilih mengakhiri hidupnya.

Dalam media briefing dengan PB IDI (11/12/2023), Dr. Nova yang dimaksud akrab disapa Noriyu itu membagikan beberapa faktor risiko yang tersebut menciptakan seseorang memiliki ide untuk bunuh diri. Berikut beberapa di tempat antaranya:

1. Loneliness (kesepian)

Kesepian menjadi salah satu faktor kuat yang tersebut menghasilkan seseorang memutuskan untuk bunuh diri. Noriyu menjelaskan bahwa faktor kesepian menghasilkan mereka itu merasa sendiri, hingga akhirnya muncul pemikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Di sisi lain, kesendirian juga sanggup menjadi cara untuk mengetahui tanda-tanda risiko adanya keinginan remaja yang dimaksud untuk bunuh diri. Mereka yang digunakan kesepian patut untuk diperhatikan agar terhindar dari munculnya ide bunuh diri.

2. Burdensomeness (merasa dirinya sebagai beban)

Remaja yang dimaksud merasa dirinya adalah beban, akan berpikir bahwa merek tidaklah sanggup memenuhi ekspektasi orang di tempat sekitarnya. Hal ini kemudian bisa saja mengakibatkan pemikiran untuk bunuh diri.

3. Belongingness (rasa memiliki)

Ketika remaja merasa dirinya tidaklah diharapkan atau dimiliki oleh orang lain, ini akan membuatnya berpikir untuk bunuh diri. Misalnya, di keluarga dirinya seakan tergantikan. Atau pada hal lainnya, ia merasa seperti tidak ada mempunyai keluarga. Situasi ini akan memancing ide-ide remaja yang disebutkan untuk mengakhiri hidupnya.

4. Hopelessness (putus harapan)

Hal lain yang dimaksud menimbulkan remaja berpikir untuk bunuh diri yaitu akibat bukan adanya harapan. Ia merasa putus asa dengan harapan hidupnya. Hal yang dimaksud membuatnya memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Oleh dikarenakan itulah, perlu adanya upaya pencegahan agar keinginan bunuh diri itu tidak ada dilaksanakan oleh remaja. Noriyu mengatakan, penting setiap saat memerhatikan orang-orang yang ada di dalam sekitar kita, baik dari kebiasaan atau hal lainnya. Biasanya, akan ada pembaharuan perilaku orang tersebut. Hal ini menjadi cara mengetahui tanda seseorang ingin bunuh diri.

“Untuk memeriksa diri sendiri, ya kita lihat kebiasaannya, kalau telah bukan dapat ketawa maka telah tidak ada beres. Itu salah satu hal simple bahwa ada inovasi yang mana terjadi,” ungkap Noriyu.

Noriyu juga berpesan agar tidaklah pernah menganggap remeh hambatan kecil orang-orang terdekat, seperti keluarga. Cobalah setiap saat beri perhatian lalu cari cara agar mereka tak merasakan faktor-faktor di tempat atas.

Misalnya dengan mencoba melakukan hal-hal menyenangkan bersamanya tanpa menyinggung perasaan mereka. Hal ini akan menimbulkan orang yang dimaksud tahu kalau dirinya diperhatikan.

“Jangan pernah menganggap remeh kalau anggota keluarga enggak ada masalah. Misalnya, kalau anggota keluarga enggak meninggalkan dari rumah, tunjukkan attention lalu perhatian. Jadi sanggup mulai dari hal-hal yang mana tiada menyerempet hal-hal stresnya dia. Tapi beliau tau kalau dirinya diperhatikan,” pungkasnya.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *