Kam. Apr 16th, 2026

Prevalensi Gagal Ginjal Masih Tinggi, Sejauh Mana Transplantasi Ginjal Bisa Jadi Solusi?

Prevalensi Gagal Ginjal Masih Tinggi, Sejauh Mana Transplantasi Ginjal Bisa Jadi Solusi?

Gagal ginjal masih menjadi salah satu penyakit paling berbagai diderita oleh rakyat di dalam Indonesia. Menurut data Studi Aspek Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) tahun 2020, prevalensi gagal ginjal di tempat Indonesia tercatat sebanyak 3,8% atau sekitar 739.208 jiwa.

Sementara itu, prevalensi penyakit batu ginjal dalam Indonesia adalah sekitar 0,6% atau 6 per 1000 penduduk. Walaupun demikian, metode perawatan kondisi tubuh di bidang urologi lalu nefrologi terus berprogres baik secara global maupun nasional.

Di Indonesia sendiri, beberapa metode perawatan terbaru untuk urologi serta nefrologi mencakup transplantasi ginjal, Robotic Biopsy, Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS), Ureteroscopy (URS), dan juga Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL).

Ilustrasi gagal ginjal. (Freepik)
Ilustrasi gagal ginjal. (Freepik)

Managing Director dari Siloam Hospitals Group, Caroline Riady, pada sambutannya menjelaskan bahwa Simposium Uro-Nefrologi ini diharapkan menjadi wadah berbagai ilmu, menguatkan kolaborasi para dokter dan juga meningkatkan mutu pelayanan urologi nefrologi di tempat Indonesia.

“Melalui kegiatan simposium ini adalah kesempatan yang digunakan berharga untuk mendalami pengetahuan dan juga berbagi pengalaman mengenai betapa pentingnya ginjal kemudian saluran kemih untuk tubuh. Di mana sudah ada terlihat pencapaian signifikan pada lingkup transplantasi ginjal dan juga dampaknya yang digunakan besar di area dunia medis”, tutur Caroline Riady.

Transplantasi ginjal merupakan terobosan teknologi dan juga kemajuan ilmiah yang dimaksud tidak ada hanya sekali menjadi pilihan hidup, tetapi juga lambang harapan hidup yang lebih tinggi panjang untuk quality of life yang tersebut tambahan baik lagi.

“Perkembangan ini telah terjadi menghasilkan kembali 313 transplantasi ginjal yang dijalankan oleh Siloam ASRI” terang Caroline.

Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya dengan urologi dan juga nefrologi yang mana telah menjadi prioritas kementerian kesehatan, para profesor, serta para ahli medis.

“Saya menghadirkan kita semua untuk mendengarkan presentasi hari ini juga berdiskusi dengan antusiasme kemudian sama-sama mewujudkan inovasi positif dalam dunia kedokteran, teristimewa di dalam bidang urologi serta nefrologi” pungkas Caroline Riady.

Acara ini turut menghadirkan berbagai dokter spesialis yang tersebut ahli dari seluruh Indonesia untuk memberikan wawasannya. Simposium ini dihadiri oleh sekitar 400 peserta, yang tersebut terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, tenaga medis pendukung, lalu hingga publik umum. Simposium medis ini membawakan berbagai topik di bidang urologi serta nefrologi.

Beberapa topik diantaranya adalah Uro-Oncology, Chronic Diseases in Nephrology, Endourology & Urolithiasis, Female Functional Urology & Neurology, Uro-Pediatric & Adult Reconstruction, Andro-Urology, kemudian Kidney Transplantation.

Topik-topik dalam berhadapan dengan dibawakan oleh beberapa narasumber ternama dan juga berpengalaman di bidang urologi juga nefrologi seperti: Prof. Dr. dr. Endang Susalit, Sp.PD-KGH, FINASIM; Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U (K); DR. Dr. Maruhum Bonar H. Marbun, SpPD – KGH; Prof. dr. Ponco Birowo, Sp.U (K), Ph.D; Prof. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), Ph.D; Prof. dr. Wiguno Prodjosudjadi, Phd, SpPD-KGH; Prof. Dr. dr. Parlindungan Siregar, SpPD, KGH; lalu 11 dokter spesialis uro-nefrologi lainnya.

Selain dokter spesialis uro-nefrologi, acara ini juga turut menghadirkan narasumber dari bidang pendukung lainnya sepert, dokter spesialis pediatri, kedokteran jiwa, patologi anatomi, konselor hemato-onkologi, dan juga kedokteran fisik lalu rehabilitasi medis.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *